Ilustrasi (IST/Irwan) Hari ini langit menghitam saat bulan menyatu dengan matahri, disaksikan ribuan pasangan yang turut mengabadikan kebahagiaan mereka. Semilir angina membelai mereka dengan lebut diiringi sinar yang perlahan meredup. Sementara itu, aku diam, terdiam, terbaring dalam ruang gelapku sendiri. Menerawang, mengkhayal, dan mendsuta. Semua tentang seandainya, seumpama, sekiranya, dan jika. Ya, hidup terantai dengan kata-kata itu, yang mengekang, memasung, juga memenjarakan raga ini hingga tak bergerak dan rapuh. Jika aku adalah pohon, aku adalah pohon tua yang tak memiliki daun. Kering dan mudah patah, tetapi tetap mecoba melawan badai dan terik matahari. Jika aku adalah angin, maka adalah angina lain yang selalu datang pada malam hari, lari pergi ketikan mentari kembali bersinar. Hidupku memang penuh kegelapan, tanpa lentera dan tanpa lilin. Hanya setitik cahaya di ujung cakrawala yang membuatku merasa tenang, angkuh, kaku, dan penuh kepura-puraan. Aku pura-pura untuk tidak...
Komentar
Posting Komentar