Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sivelen

Sebelas Mata di Kepala

Gambar
- Karya Radhar Panca Dahana - BABAK PERTAMA SEBUAH RUANG. BERAPAPUN BESARNYA. KOSONG. BISA GELAP, BISA TERANG, BISA SURAM. TAK ADA PERISTIWA. TAK ADA APA-APA. SEPERTI POTRET YANG DIAM, DUA DIMENSI. IA DAPAT DIISI ATAU BERISI APA SAJA. KURSI, TEMPAT TIDUR, LAMPU, LEMARI, LUKISAN DINDING: SEBUAH KAMAR TIDUR. BISA, SEBUAH DAPUR DENGAN SEGALA PERABOTANNYA. BISA, SEBUAH TAMAN DENGAN KURSI (YANG BERISI ATAUPUN TIDAK). BISA SEBUAH WARUNG TEGAL. BISA KOSONG SAJA. BISA APA SAJA. SEMUA DIAM. SEPERTI POTRET BISU. HINGGA MUNCUL WAKTU. YANG MEMBERI RUANG SEBUAH GERAK, SEBUAH PERISTIWA. BISA DIMULAI DARI RUANG MANA SAJA, DALAM PILIHAN APA SAJA (SEPERTI DI ATAS). DAN PERISTIWA TERJADI OLEH APA DAN SIAPA SAJA YANG MENGISI RUANG PERTUNJUKAN AWAL INI. APA DAN SIAPA SAJA YANG DAPAT MENJADI AKTOR DI BABAK INI. SEORANG YANG BERJALAN PELAN DARI TEMPAT TIDUR KE MEJA KERJA ATAU KACA RIAS, MISALNYA. SEEKOR KUCING YANG MELINTAS TAMAN, DISUSUL TIKUS YANG SEOLAH MENGEJARNYA, BISA SAJA. ATAU TEKO TEH POCI YANG MEN...

Bentuk, Lekuk, Suara, dan Langkah yang Tak Serupa

Gambar
Ronen Bekkerman Dalam dan luar diri kita berbeda. Bentuk, lekuk, suara, dan langkah yang tak serupa. Jika bentukmu bulat, aku ini pipih, dan mereka di antara kita. Lekukmu memang halus, sementara aku kaku dan kasar. Mereka... mungkin memiliki lekuk lebih halus darimu. Untuk suara, aku tak bisa berbangga. Kau bisa dengar sendiri bahwa suaraku tak melebihi dari langkah. Langkah yang hati-hati yang berusaha tak menginjak siapapun. Suara yang pelan yang tak memiliki kekuatan untuk memekakkan siapapun. Kuatur demikian karena aku tak ingin suaraku melebihi langkahku. Berbeda dengan kamu dan dia yang memiliki rongga udara lebih luas. Suaramu begitu lantang, hingga mampu menggetarkan. Suaramu mengaum seperti singa yang tengah kelaparan. Aku pun sadar kalau auman membutuhkan banyak energi. Yang akhirnya membuatmu sejenak harus mengistirahatkan diri. Tak serupa memang tak sama. Tapi itulah yang seharusnya menguatkan kita. Mengaumlah, maka aku akan melangkah maju saat kau beristirahat. Kita belaj...

THE LEGEND of RAWA PENING

Gambar
Zaman dahulu kala, di sebuah kampung yang berna Desa Ngasem, hidup seorang wanita bernama Endang Sawitri. Saat itu Endang Sawitri sedang hamil yang  kemudian melahirkan seorang anak yang anehnya. Yang dilahirkan Sawitri bukanlah bayi biasa, melainkan seekor naga yang kemudian diberi nama Baru Klinting. Baru Klinting merupakan naga spesial yang bisa berbicara layaknya manusia. Mereka pun tinggal berdua seperti layaknya manusia. Saat usia Bru Klinting menginjak remaja, rasa keingintahuannya pun terusik. Ia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada ibunya. Dia ingin tahu apakah dia memiliki seorang ayah dan di mana ayahnya berada. Mengejutkan, karena Endang Sawitri menjawab bahwa ayahnya adalah seorang raja, yang sedang bertapa di sebuah goa, di lereng Gunung Telomoyo. Baru Klinting pun ingin bergegas menemui ayahnya, namun ibundanya itu mencegah dan mengatakan bahwa akan tiba saatnya Baru Klinting bisa menemui ayahnya. Baru Klitnting pun patuh pada perintah ibundanya. Hari pen...

Tugas Kita Hanya Memilih Pilihan Itu dan Jalani

Gambar
Hidup itu akan selalu memberikan pilihan Tugas kita hanya memilih pilihan itu dan jalani Setiap orang diberikan pilihan yang tak persis sama Tergantung di mana ia berdiri dan membuka matanya Tak harus sama untuk memilih Tak perlu memaksa untuk memilih yang sama Menghina pilihan orang lain hanya akan menghinakan pilihan Anda sendiri

Bergantung pada Akar yang Rapuh

Gambar
Ilustrasi: akar dan rumput (Animasi: onemaulana) Brosis pernah dengar pribahasa “Bergantung pada akar yang rapuh”? Pasti pernah dong. Tapi, masih ingat artinya apa nggak nih? Hehehe… saya yakin masih, walapun banyak juga yang mulai lupa. Untuk yang lupa, kita coba ingat lagi yuk. Bergantung pada akar yang rapuh maksudnya apa sih? Siapa yang mau bergantung pada akar yang rapuh? Apakah akar bisa digantungi? Sebenarnya itu pertanyaan saya saat pertama kali mendengar pribahasa itu dan jawaban saya saat itu langsung merujuk pada pohon beringin tua yang diceritakan oleh orang tua saya. Lho, kenapa ke sana? Yup, secara spontan saya membayangkan apa yang diceritakan orang tua saya, ketika ia kecil, yang suka bermain dan bergantung di akar pohon beringin layaknya Tarzan, yang bergantung ke sana ke mari sambil berteriak “Auwoooo”. Coba Brosis pikirkan deh, kalau kita salah memilih akar untuk kita bergantung (dalam hal ini akar tersebut rapuh) apa yang akan terjadi? Akar terputus dan kita jatuh b...

Sastra dalam Realitas Media Massa, Simulacrum

Gambar
ilustrasi: pixabay Kala jagat seni dan media mengalami perubahan yang besar, hakikat sastra (apa  boleh buat), ikut pula berubah seiring dengan perkembangan. Jadi, jika ada pertanyaan "Apakah yang disebut dengan sastra hari ini?" sebaiknya tidak terburu-buru menjawabnya. Sastra tidak lagi bisa dibayangkan sekadar kumpulan kisah atau ungkapan melankolis yang terletak di dalam lembaran-lembaran kertas. Mungkin dua puluh enam tahun silam, Walter Benjamin pernah mengungkapkan sastra merupakan "seni yang direproduksi secara mekanis'. Baginya, berbarengan dengan perkembangan sinema, seni modern telah kehilangan sifat auratiknya. Sineas terkemuka Indonesia, Garin Nugroho, pun pernah mengutarakan pula "televisi adalah sastra rakyat hari ini". Berdasarkan hal tersebut, bisa dieja secara lain, sastra perlu dipahami dalam konteks perkembangan barus seni dan media. Di samping semua itu, ada pertanyaan lain yang cukup mengusik yangni, "disiplin ilmu apa yang mengge...

Air Beriak Tanda Tak Dalam, Kecuali "Salesman"

Gambar
Ilustrasi: onemaulana.blogspot.co.id  Mungkin kita pernah dengar pepatah yang mengatakan "air beriak tanda tak dalam" atau sebaliknya "air tenang menghanyutkan". Saya rasa semuanya pernah mendengar, sebab pepatahan tersebut sudah diajari guru-guru kita yang melanjutkan guru-guru mereka. Yup, turun-temurun kita diajari pepatah itu. Kita semua juga tentunya mengetahui maksud tersirat dari kedua pepatah itu, yang mana nilai rasa dari masing-masing pepatah berkebalikan dengan kenyataan dalam kehidupan nyata. Tapi kenapa bisa seperti itu dan Pernahkah Anda mempertanyakannya? Sebelum menjawab, baiknya kita ulas dahulu pepatah tersebut satu per satu. Menurut wikiquote peribahasa atau pepatah Air Beriak Tanda Tak Dalam memiliki arti tersirat; (1) orang yang banyak bicara biasanya tidak berilmu dan (2) orang yang terlalu banyak berbicara adalah orang yang tidak terlalu paham masalah pembicaraannya. Sementara itu, pribahasa atau pepatah air yang tenang menghanyutkan memiliki ...

Jalan Gelap Sehitam Kopi

Gambar
Hari ini langit menghitam saat bulan menyatu dengan matahri, disaksikan ribuan pasangan yang turut mengabadikan kebahagiaan mereka. Semilir angin membelai dengan lebut diiringi sinar yang perlahan meredup. Sementara itu, aku diam, beku, terbaring dalam ruang gelapku sendiri. Menerawang, mengkhayal, dan mendsuta. Semua tentang seandainya, seumpama, sekiranya, dan jika. Ya, hidup terantai dengan kata-kata itu, yang mengekang, memasung, juga memenjarakan raga ini hingga tak bergerak dan rapuh. Jika aku adalah pohon, aku adalah pohon tua yang tak memiliki daun. Kering dan mudah patah, tetapi tetap mecoba melawan badai dan terik matahari. Jika aku adalah angin, maka adalah angin laut yang selalu datang pada malam hari, lari pergi ketikan mentari kembali bersinar. Hidupku memang penuh kegelapan, tanpa lentera dan tanpa lilin. Hanya setitik cahaya di ujung cakrawala yang membuatku merasa tenang, angkuh, kaku, dan penuh kepura-puraan. Aku pura-pura untuk tidak menyukai berbagai hal yang menyen...