oleh Nazarudin Berbicara masalah kata serapan dari bahasa Betawi ke dalam bahasa Indonesia memang agak sulit. Hal ini disebabkan identitas bahasa Betawi itu sendiri yang pada eksistensinya sudah tercampur dengan banyak bahasa, baik bahasa Jawa, Sunda, bahkan bahasa Asing lain, seperti Belanda dan Portugis. Salah satu contohnya adalah kata tanjidor dalam bahasa Betawi yang diambil dari bahasa Portugis, sekarang kata ini juga dipakai dalam bahasa Indonesia. Tidak hanya bahasanya saja yang tercampur, menurut sejarah, suku Betawi sendiri pun merupakan hasil percampuran dari beberapa suku bangsa yang ada di Indonesia. Komposisi penduduk Jakarta sejak abad ke-17 terdiri dari kelompok etnis yang beragam akibat migrasi dari dalam maupun luar Indonesia (Castles,1967). Castles juga menambahkan bahwa keberagaman suku dan ras di Betawi semakin bertambah sejak Gubernur Batavia pada waktu itu memperbolehkan orang-orang Cina, Banda, Melayu, Bugis, Bali, dan beberapa suku lainnya untuk tinggal di dala...
Gugup Berpotensi Rusak Kesehatan Menggigit jari, memutar/menari rambut, menggelengkan kepala, menyentuh wajah, dan lain sebagainya dapat merugikan. P ARA ahli kesehatan mengatakan kebiasaan orang saat gugup dapat merusak kesehatan. Kegiatan yang identik saat orang dalam keadaan gugup, seperti menggigit jari, memutar/menari rambut, menggelengkan kepala, menyentuh wajah, dan lain sebagainya dapat merugikan. Berikut sepuluh kebiasaan yang tercatat dapat merugikan seperti dilansir Health.com ; 1. Menggigit Jari Kebiasaan menggigit jari dapat merusak kuku dan lambat laun juga dapat merusak kulit di sekitar kuku. Kuman dari kuku pun dapat berpindah ke mulut dan sebaliknya. Kuman yang masuk ke dalam mulut manusia dapat menyebabkan terjadinya infeksi tenggorokan atau gusi gusi. 2. Memutar-mutar dan Menarik Rambut Memutar-mutar rambut dengan jari merupakan kebiasaan yang merugikan, kuhusunya bagi wanita karena dapat merusak akar rambut. Hal ini dapat memicu kerontokan...
Ilustrasi (IST/Irwan) Hari ini langit menghitam saat bulan menyatu dengan matahri, disaksikan ribuan pasangan yang turut mengabadikan kebahagiaan mereka. Semilir angina membelai mereka dengan lebut diiringi sinar yang perlahan meredup. Sementara itu, aku diam, terdiam, terbaring dalam ruang gelapku sendiri. Menerawang, mengkhayal, dan mendsuta. Semua tentang seandainya, seumpama, sekiranya, dan jika. Ya, hidup terantai dengan kata-kata itu, yang mengekang, memasung, juga memenjarakan raga ini hingga tak bergerak dan rapuh. Jika aku adalah pohon, aku adalah pohon tua yang tak memiliki daun. Kering dan mudah patah, tetapi tetap mecoba melawan badai dan terik matahari. Jika aku adalah angin, maka adalah angina lain yang selalu datang pada malam hari, lari pergi ketikan mentari kembali bersinar. Hidupku memang penuh kegelapan, tanpa lentera dan tanpa lilin. Hanya setitik cahaya di ujung cakrawala yang membuatku merasa tenang, angkuh, kaku, dan penuh kepura-puraan. Aku pura-pura untuk tidak...
Komentar
Posting Komentar